Mar 17 2008

negeri makmur atau demokrasi

Published by Wiryanto at 7:42 am under Opini, pemikiran

Pagi ini pukul 5.00 udah di jalan, rute standar bekasi-kali malang-pintu tol jatibening –terus–pintu tol karawaci-kampus UPH Lippo Karawaci. Kelihatannya ini rute kayak Jogja-Magelang, atau mungkin lebih jauh. Ini setiap hari lho. Untuk lima tahun ini ditugasin belajar, jadi hanya dua dari lima hari kerja aku harus menempuh perjalanan tersebut.

Jadi kalau aku lulus nanti ada plus dan minusnya, plus jelas karena punya gelar akademis lebih tinggi, tapi minus karena harus setiap hari menyusuri jalan-jalan ibukota yang itu-itu. Nggak menarik lha, jalan yang macet-macet gitu.

Itulah hidup, ada sisi senang, ada sisi yang berlawanan. Ternyata itu juga berlaku umum, seperti pasangannya aja. Kenapa begitu ?

Ini di radio BBC, yang aku dengar selepas Tomang, jalannya berlawan arus sehingga terasa lebih lenggang, pagi-pagi juga. Jadi nggak perlu cepet-cepet mengendari mobilnya. Sambil lintong-lintong di jalur kiri, agak lambat, sambil mendengarkan radio. Ini berita yang mengena adalah berita tentang suasan pemilu di Malaysia.

Tahu sendiri khan, kalau barisan nasional hanya menang tipis, yang kata komentator radio BBC sebagai indikasi ketidak-puasan rakyat terhadap pemerintahannya Badawi. Beritanya banyak yang kecewa lho, bahkan pak Mahathir, yang dulu menjagokannya juga ikut-ikut mencela. Bahkan dibilang bahwa pilihannya salah. Gitu. Yah, bener juga, dalam politik katanya nggak ada yang abadi. Lho emangnya di luar politik, juga abadi ?

Orang Malaysia juga pada kecewa ? Kecewa kena apa ya ?

Agak bingung juga, padahal menurut pandangan kita, negeri tersebut khan relatif cukup maju, bahkan menjadi negeri tujuan banyak rakyat negeri ini. Ini benar lho, tidak hanya pada level TKI tetapi juga pada level engineer, yang notabene adalah terpelajar, tingkat menengah begitu. Bahkan sekarang, Malaysia menjadi negeri tujuan anak-anak muda untuk menempuh pendidikan tinggi, di level doktor juga.

Jadi di tingkat ekonomi, kelihatannya tidak ada masalah, karena disana lapangan kerja lebih banyak peluangnya, juga kelihatannya jarang terdengar berita bahwa negeri tersebut banyak terkena bencana alam. Nggak seperti di negeri ini, yang mewarna-warni.

Jadi tidak salahlah kalau Malaysia dapat disebut negeri makmur, ya relatiflah, yaitu jika dibanding dengan negeri ini.

Tapi di pemberitaan di radio BBC tersebut, diinformasikan bahwa rakyar di sana pada takut untuk menyampaikan pendapat, yaitu ketika reporter radio tersebut kesulitan menemukan orang-orang di sana yang mau berpendapat di radio tersebut.

Jadi Indonesia lebih unggul dalam hal kebebasan pendapat dibanding Malaysia.

Jika anda, masyarat boleh memilih, mana yang lebih baik. Makmur secara ekonomi tapi nggak boleh ngomong, atau boleh ngomong sesuka hati akan ketidak-makmuran ekonomi dan tidak ada yang ditakuti, karena memang nggak ada yang peduli. :P

Itulah manusia, nggak pernah puas-puas.

One Response to “negeri makmur atau demokrasi”

  1. tukinoon 09 Okt 2008 at 1:06 pm

    mas Dewo Broto.

    kita telah membuktikan kalau masyarakat Indonesia saiki luwih susah di tata dengan dalil demokrasi.kalau aku meng-artikan : setelah demo terus ngerasi .pokoknya waktu ngomong menang dan puas setelah di putuskan ditinggalkan.contoh penggantian minyak gas ke LPG. cuma dulu yang sengsara itu satu dua orang (yang ngomong ) sekarang semua.

    salam Tukino

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply